Balada Ulangan Kenaikan Kelas

19.30.00

Untuk blog.

    Ulangan berakhir dan saya sangat senang untuk menyambutnya. Setelah ulangan, ada hari dimana siswa bisa datang lebih siang dari waktu masuk biasanya. Jika dalam sehari-harinya berangkat sekolah jam 7, setelah ulangan siswa dapat datang jam 8. Selamat datang Hari Bebas. Tapi, guru-guru tidak ingin muridnya bebas dalam waktu secepat ini. Mereka sudah menyiapkan segudang cara agar murid-murid menderita untuk kesekian kali dalam hidupnya. Ya, mereka menyiapkan senjata terampuh mereka yang membuat kita merasa bahwa kita adalah manusia yang bodoh di dunia. Senjata itu adalah remidial. Murid-murid dipaksa untuk menggunakan otak mereka lagi, pusing-pusingan lagi ngerjain soal eksak. Dan ketika kami sedang mengerjakan dengan soal remidial super kutukupret, gurunya hanya duduk di depan kelas dan memberikan senyum. Senyum senang melihat penderitaan muridnya. “Hehehe,” senyum kuda poni hidung belang.

    Ketika ulangan, jujur satu minggu ketika ulangan itu menyenangkan, walaupun sedikit takut sama pelajaran eksak. Iyalah, saya takut enggak naik kelas. Tapi ya, jangan terlalu dipikirkan, nantinya malah stress. Terus gila, masuk Rumah Sakit Jiwa, hih. Kita capek-capek belajar juga, ujung-ujungnya akan tenggelam dalam lautan remidial yang sangat dalam sedalam Palung Mindanao dan dimakan ikan hiu berwajah spongebob, sadis.


    Fase kegiatan saat ulangan, bangun tidur-ulangan-pulang-tidur siang-baca materi-makan-tidur. Itulah mengapa saya merasa senang, karena hanya disaat ulanganlah saya bisa tidur siang. Saya juga tidak mengerti, saat ulangan saya itu inginnya senang terus. Baru pulang ulangan dari sekolah ngelihat adik nganggur dan lihat FTV saja saya sedih, terus saya suruh dia ke warung beliin Gery Feses. Biar dia ada kerjaannya gitu. Terus ngelihat adik lagi nonton sinetron ganteng-ganteng buaya, remotenya saya ambil. Saya matikan TV-nya. Saya suruh dia ngerjain soal Sistem Persamaan Kuadrat Sepuluh Variabel. Adik saya overdosis, keluar buih-buih dari mulutnya dan tergeletak dengan mata melotot. Melihat itu, saya bahagia.

    Saat ulangan, saya merasa otak saya encer banget. Sering-sering baca materi yang mau diulangankan jadinya terlatih. Dan nikmat terindah adalah ketika saya sudah membaca materi dan sangat hapal materi itu. Soal tentang itu keluar di ulangan, essay lagi. Saya suka senyum-senyum sendiri, sambil mengerjakan. Kakak kelas yang duduk sebelahan sama saya suka curiga kalau saya senyum-senyum, dia takut saya naksir dia.
Lalu saya beralih ke nomor essay selanjutnya, ternyata.. saya tidak hapal materinya, dan saya belum baca sama sekali. Durian montong menimpa kepala saya ketika mendapat soal seperti itu. Soal kayak gitu itu enggak enak, dari kejauhan saja sudah tercium bau remidial di dalamnya. Saya langsung berdiri dan menggebrak meja dengan kepala. Lalu maju ke depan kelas untuk menjambak rambut pengawasnya. Saya buka peci yang dikenakan pengawasnya, dan ternyata pengawasnya botak. Akhirnya saya jambak rambut teman saya, Fathin. Dia meraung-raung juga, bukan karena kesakitan. Dia juga merasakan hal yang sama dengan saya. Kesal karena soalnya susah buat dikerjain. Dia menghampiri meja saya, dan menjambak rambut saya. Kampret.

“:v”
 “De,”
 “Apa, kak?”
 “Ada komodo di muka kamu.”

  Ketika ulangan, sebagai adik kelas, satu ruangan sama kakak kelas kadang bikin gugup. Takut dikira adik kelas yang sok-sok-an. Sok ganteng, sok keren, dan juga sok lucu. Yang saya heran, kenapa kakak kelas suka suudzon gitu ya, apalagi kakak kelas cewek versus adik kelas cewek. Di jalan, ketika berpapasan terus tidak menyapa satu sama lain atau sekedar senyum suka digosipin sama teman-teman satu gengnya, dibilang sombong.

 “Kemarin adik kelas kita si Oti yang super udik itu, pas ketemu gue di jalan gak senyum sama sekali.”
 “Ih, najong tralala banget.”

  Makanya, saya kalau emang berpapasan atau harus berbicara langsung sama kakak kelas sebisa mungkin pasang wajah super imut dengan senyum sesering mungkin. Dan yang terpenting jangan pasang wajah sinis atau cemberut. Entar, dicap sebagai adik kelas sombong.

  Tapi, di ulangan kemarin, kakak kelas yang duduk sebelahan sama saya tidak membuktikan teori yang baru saya kemukakan dengan panjang lebar di atas. Dia perempuan, bertubuh pipih, dan berkembang biak dengan cara membelah diri. Dia tinggal di sungai yang airnya bersih. Sekali airnya kotor dan mengandung bahan kimia berbahaya, dia langsung sakaratul maut. Dan pulang ke surga dengan damai.

    “Maaf, de?”
    “Apa?”
    “Teteh bukan planaria.”

    Sebut saja si Teteh. Yang jelas dia wanita karir, berkarir di sekolah. Si Teteh suka senyum ke saya menandakan dia enggak jaim. Walaupun hari pertama dia kelihatan diem dan serius. Tapi, hari selanjutnya dia membuka bajunya.

    Sorry, saya lagi migrain.

    Dia mulai membuka diri, dia mulai tanya-tanya sesuatu. Dia nanya soal temen perempuan di kelas saya, biasa perempuan suka pengen tau hal-hal tentang perempuan lain. Si Teteh ini juga punya gejala amnesia stadium pertama.

    Kejadiannya, ketika temennya yang duduk di depan dia minjem tipe-x (correction pen) punya si Teteh. Pas udah selesai make, si temannya naro tipe-x nya sedikit dekat dengan papan ulangan yang saya pakai. Teteh ini masih serius mengerjakan soal essaynya. Beberapa menit kemudian, dia mulai salah nulis. Dia menyadari tipe-x berada di dekat saya. Dia mulai lirik-lirik, saya menjadi salah tingkah. Saya nunduk.

    “De, itu tipe-x punya siapa?”
    “Err..” pasang wajah imut, “kan punya teteh. Hehehe.” Ditambah nyengir biar kece.

    Terjadi keheningan, Teteh mengambil tipe-x, “Oh iya. Hehe.” Dia nyengir juga, tapi enggak kece. Kayak guru kalau ngasih remidial.

    Ke sananya si Tetehnya suka senyum-senyum kalau dia berkontak langsung sama saya. Kalau saya ngambilin absennya, dia senyum. Saya minjem tipe-x-nya, dia senyum. Mungkin dia masih geli sama kejadian waktu itu, dan saya menyimpulkan: gejala amnesia stadium dua adalah senyum-senyum gak jelas ke orang lain.

    Bisa karena biasa, saking seringnya disenyumin jadi enggak aneh lagi. Senyumnya juga manis kok, seperti rasa permen gulali. Saya juga jadi pengen sikat gigi terus, soalnya malu giginya kuning. Saking terinspirasi dari gigi saya yang kuning ini, Coldplay sampai menciptakan lagu “Yellow” buat saya.
    Tepuk tangan dulu, dong.


“:v”

    Ulangan boleh jadi unjuk kebolehan. Untuk menunjukkan siapa yang paling pintar dan paling tinggi nilainya. Tapi di ruangan tempat saya ulangan, terjadi sebuah kompetisi yang sangat membuat saya muntah, soalnya otak saya lemot.Kompetisi itu adalah paling cepat ngerjain soal ulangan. Saya lagi serius ngerjain soal dan waktu masih satu jam habisnya. Salah satu teman saya sudah keluar ruangan, dia sudah selesai mengerjakan. Saya mana bisa ngerjain soal begitu. Paling cepat saya mengumpulkan, 15 menit sebelum waktu habis.

    Dan ketika sedang dalam ulangan PAI (Pendidikan Agama Islam), soal dan jawaban dibagikan. Saya langsung mengisi identitas diri. Ketika saya selesai mengisi identitas dan baru akan mulai lompat ke soal. Ada kakak kelas yang sudah ke depan kelas untuk mengumpulkan. Lalu disusul 2 orang kakak kelas lagi.

    “Glek.” Saya menelan ludah. Sepintar itukah anak-anak yang sekolah disini. Seisi kelas tertawa. Saya hanya bisa diam, antara kagum dan tidak mengerti apa yang ditertawakan. Beda tipis.

    Saya lanjut ke soal.

    Ketika ulangan PAI selesai dan keluar ruangan saya coba menyakan ke Adam perihal orang yang tadi bener-bener cepat banget mengerjakan soalnya. Flash juga kalah cepat dalam mengerjakan soal jika duel dengan dia.

    Adam menjawab, “Oh. Itu non-islam.”
    Pantes.

    Dan kompetisi paling cepat menyelesaikan soal membuat saya kewalahan lagi. Ketika ulangan kimia, 30 menit sebelum waktu habis orang-orang satu kelas sudah keluar ruangan semua. Tinggal saya dan satu anak cewek. Ini tekanan batin, membuat saya kebelet pengin cepat-cepat keluar juga. Saya linglung, bingung, dan pusing. Pengen muntah. Essay belum diisi 2 nomer dan soalnya sangat sulit. Dari kepala saya mulai keluar cacing-cacing kremi. Ini gejala kalau otak saya sudah mentok.

    15 menit lagi, pengawasnya mulai beres-beres. Saya mulai panik. Essay-nya satu nomor lagi yang belum dikerjain. Jangan sampai satu nomor terlewatkan untuk tidak diisi.

    Ketika saya dalam puncak kepanikan, si pengawas itu mulai melirik ke arah saya dengan berbinar-binar. Dia berjalan menghampiri saya yang sedang pusing, lalu duduk di tempat duduk yang berada di depan saya. Tersenyum seraya mengatakan, “Udah. Cepetan selesai dong. Jangan sok pinter gitu.”

    Saya hanya bisa nyengir. Pengawasnya malah ngejekkin saya, lagian siapa yang sok pinter. Bukannya bantu saya, minimal ngasih kunci jawabannya lah.

    Setelah diejek begitu saya menulis jawaban seadanya untuk essay yang tinggal satu nomer tadi. Enggak tau bener atau tidak, saya asal mengisi saja. Saya meninggalkan ruangan dengan langkah gontai dan menyapa teman-teman yang berada di luar. Saya melihat ke ruangan lain yang letaknya dekat dengan ruangan tempat saya ulangan, ternyata masih banyak yang belum keluar dan masih berkutat dengan ulangannya.

    Saya hanya bisa mengelus dada, seharusnya saya tidak tergesa-gesa dan termakan ejekkan maut si pengawas itu. Toh, yang lain juga  masih banyak yang belum.

    Itulah, semoga terhibur teman-teman.
   
   

Baca cerita yang lain yuk!

8 yang komentar.

  1. Dibuat pelajaran aja kawan :)
    Jadi keinget dulu waktu sekolah juga nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bang bener. Tuh kan jadi flash back deh si abang-nya..

      Hapus
  2. “Ih, najong tralala banget.” Lol :v

    BalasHapus
  3. Eyaaak. Menumpuklah remedial itu. (?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nilai remidial-nya malah tambah jelek dari nilai ulangannya :((( #hestekcurhattt

      Hapus
  4. Dimana-mana kalo abis UKK hampir sama ya, remedial, gak ada kerjaan, gerak-gerak gak penting, jomblo, males..... Postingan ini sukses bikin ngakak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah siklus hidup seorang jomblo (ngenes) sepeti saya dan si mbak-nya juga mungkin..
      Kalo kata bang @shitlicous mah: Jadian yuk~

      #inibecanda

      Hapus

Terserah..

Total Tayangan Laman