Minggu, 23 November 2014

The November of SHIT!!

Untuk blog.



Gile, sebulan sebelum ulangan adalah saat-saat paling sibuk dalam hidup. Guru-guru berlomba-lomba mengejar materi yang belum sempat mereka ajarkan kepada anak didiknya. “Takut kalian gak bisa di ulangan.” Selalu saja mereka mengeluhkan begitu, padahal yang buat soal ulangannya bukan murid, tapi gurunya sendiri. Tinggal coret aja materi yang belum mereka ajarkan di soal ulangannya.

Yang paling jadi korban memang bukan guru, tapi muridnya. Para murid terpaksa memakai otak mereka 2 kali lipat dari biasanya. Soalnya murid-murid harus menyerap materi lebih banyak dari biasanya. Kalau sudah begini yang diserap bukan tambah banyak, tapi yang keluar malah yang tambah banyak.

Yang susah bukan cuma murid, tapi saya juga susah. Sebagai murid gadungan di SMAN 2 Kuningan hal seperti di atas tadi memang menyulitkan. Kalau murid biasa mereka harus menggunakan otak mereka 2 kali lipat, kalau saya 4 kali lipat, soalnya otak saya ini lemotnya sudah gak ketulungan lagi. Apalagi dalam pelajaran eksak seperti matematika, fisika, dan kimia. Belajar biasa saja sudah persis dikejar-kejar anjing (karena orang lain udah pada ngerti duluan, saya sendiri yang belum ngerti), sekarang… belajar sambil mengejar materi yang belum ulangan mirip banget lagi dikejar-kejar anjing-anjing yang galak-galak.

Ditambah fakta bahwa bulan November ini memang tidak ada hari libur selain hari Minggu. Hari Minggu pun masih tidak bisa santai karena hari Senin pelajaran fisika sudah menanti. Yap, remidial fisika dilakukan setiap hari Senin sepanjang bulan November. Wow! 4 BAB saya remidial semua. Hehe, benar-benar murid gadungan.

Tapi, remidial ini menguntungkan lho, karena sebelum melakukan remidialnya, Mr. Quznama (guru fisika) memberikan semacam pengayaan. Jadi di luar jam pelajaran sebelum hari remidial H-2 atau H-3 belajar dulu bersama dirinya. Tapi pengayaan tersebut dipungut biaya sebesar 15 rebu rupiah untuk setiap belajar bersama dirinya. Gak apa-apa lah, kata Mr. Quznama biaya pengayaan tersebut buat bikin TPA. Terus, biasanya dia kalau ngajar di kelas galaknya super. Ehm. Kalau di pengayaan dia jadi baik. Ehm. Walhasil sebelum ulangan saya sudah mengulang materi fisika dan menjadi lebih mengerti. Dan saya siap untuk ulangan akhir semester ganjil… fisika! WUOH!!

Sekarang sudah tanggal 23 November, besok Senin 24 November 2014, ulangan remidial fisika yang ke-3, BAB Usaha dan Energi. Selasa, harus presentasi tugas membuat online shop (powered by prestashop) di luar jam pelajaran harus pengayaan fisika lagi (jadwal dimajukan). Rabu, Ulangan Biologi BAB Sistem Sirkulasi dan Ulangan Kimia BAB Laju Reaksi. Kamis, Remidial Kimia BAB Hidrokarbon atau Termokimia dan Ulangan Remidial Fisika BAB Gravitasi. Tugas numpuk PKN harus dikerjain semua tugas mandirinya yang ada di buku paket. Makalah kimia tentang minyak bumi belum selesai deadline akhir bulan. Matematika masih ada BAB yang belum ulangan harian. Dan tanggal 1 Desember adalah puncaknya, harus siap menghadapi ULANGAN AKHIR SEMESTER!! Ya Allah, berilah hamba-Mu kekuatan… dalam menjalani serangkai aktivitas yang dapat membuat otak over-heat ini. Jangan sampai otak hamba over-heat biarkan sejuk seperti di air terjun, amin.

Oke, paragraf sebelumnya jangan dipikirkan apalagi dibayangkan, bisa stress duluan. Hehe. Saya hanya membagikan keresahan kepada kamu. Biar yang pusing bukan cuma saya. Pusing bareng-bareng lebih keren daripada pusing sendirian.

Untuk motivasi menghadapi ulangan saya membuka-buka buku dan akan membagikan quotes dari para guru yang telah mengajar saya di semester ganjil ini:

1. “Insya Allah soal ulangan yang saya berikan manusiawi.”
-Mr. Yan2 (Guru Matematika)

2. “Apa yang Anda lakukan pastikan itu bermakna.”
-Mr. Yan2

3. “Saya punya angka disini, sebut saja ..(isi sendiri sesuka murid)..”
-Mr. Yan2

4. “Tidak selamanya yang menonjol itu orang kaya.”
-Mr E-Man (Guru Bahasa Indonesia)

5. “Pertanyaan bercanda!”
-Mr. Quznama (Guru Fisika)

6. “Quotesnya dikit amat.”
-Yang baca postingan ini

Dengan ini saya memberikan title 2014 Best Quotes of the Semesters kepada quotes nomor 5. Dikarenakan sudah dikatakan ulang oleh banyak sekali orang di kelas saya. Dan mungkin juga di sekolah saya tercinta SMAN 2 Kuningan.



  



Segitu aja, coeg (ceritanya wancaker), semoga sukses dengan guru-tugas-eksak-ulangan-dan-remidial kalian. Duniaku seperti ini dan duniamu seperti itu. Semoga postingan ini bisa memotivasi kamu untuk lebih giat lagi untuk malas belajar dan menjadi murid gadungan level Apprentice. Ingat, Pusing bareng-bareng lebih keren daripada pusing sendirian. Got it? Sip!!



P.S: Buat gokil-gokilan aja, kolaborasi sama foto-foto temen sekelas....

IH!!!
Ya, betul, pak!!


Minggu, 16 November 2014

GPAK Futsal: Boys in Action!!!

Untuk Blog.

Baca juga prequel postingan ini: Gebyar Prestasi Antar Kelas dan  Perawan XI MIA 1 Main Futsal?

Para pemain dari kedua kesebelasan, eh, salah, bro kan futsal.

Para pemain dari kedua kelimaan sudah memasuki lapangan. Mereka tampak sudah siap saling sikut untuk merebut kemenangan, agar bisa lolos ke babak selanjutnya. Apalagi para pemain dari tim XI MIA 1, mereka ingin sekali mengalahkan kakak-kakak kelasnya itu, lantaran tim futsal putri yang telah kalah terlebih dahulu. Masa yang putranya harus kalah pula, sih?

“Ya, semua sudah siap, tapi kelas XI MIA 1 kipernya mana ini?!!” lantang si Agung yang menjadi komentator bertanya-tanya dari microphone, kemana si David kok belum masuk lapangan. Para pemain kelas XI MIA 1 kelimpungan, celingak-celinguk, ternyata dia masih di bangku yang sejak tadi didudukinya. David lagi make sepatu futsalnya yang telat dibalikkin sama Gina, yang tadi maen dari tim futsal putri XI MIA 1.

“Aduh, udah dibilangin cepet buka sepatunya. Saya kan yang ribet sekarang ditungguin lagi!” ketus David kepada Gina.

“Maaf, vid. Maaf!” Gina menyesal, meminta maaf.

“Eh, cepetan ke lapangan!”

“Iya vid, cepetan!!”

“Bentar dulu, ah!”

Si David yang tadi udah pake sarung tangan harus ngebuka lagi sarung tangannya biar pake sepatunya cepet. Pas. Tali sepatu udah ditaliin. Oke, sip. Dia kelupaan untuk memakai sarung tangannya, buru-buru aja dia ngibrit ke lapangan kayak udah ketinggalan kereta. Huh, telat, kereta udah berangkat.

“Akhirnya si Mamba Hitam masuk lapangan!” Agung berkomentar ria.

Pas, udah nyampe di gawang.. si David baru nyadar kalo sarung tangannya belum dipake. Shidiq lari-lari ke pinggir lapangan terus ngelemparin sarung tangannya ke si David, pertandingan keburu mulai.

“Kampret, udah mulai. Nanti aja makenya.” keluh David. Lalu sarung tangannya ditaro di sisi kanan gawang yang akan dijaganya itu. Pertandingan belum juga panas si David udah kelimpungan duluan. Pake sepatu telat, terus sarung tangannya gak dipake lagi.

Yang main dari kelas XI MIA 1 ada Dicky, Supri, Ken, Agun, dan kiper fenomenal, David. Mereka itu line-up yang turun pertama kali ketika kick-off 15 menit pertama dibunyikan. Sementara di bench—bangku cadangan, ada Bertus dan Shidiq. Siap menggantikan pemain yang udah ngos-ngosan nanti.

Grrrr, this is the match.

3 menit pertandingan berjalan. Yang kebobolan pertama malah si David. Kelas XI MIA 1 tertinggal duluan. Berkat kerja sama tim yang epic, kelas XII MIA 3 yang dikomandoi oleh Kang Ardan sukses menceploskan bola ke gawang David. Si David maju sedikit dan menebak arah bola malah ke kanan badannya, sedangkan bola meluncur ke kiri badannya. Gawang yang kosong lebar jelas menjadi tujuan utama bola itu.

“Gol! XI MIA 1 harus tertinggal lebih dulu!”

Setelah terpukul oleh kebobolan yang sangat menyakitkan, XI MIA 1 berusaha bangkit dari ketinggalan. Dicky dan Agun berusaha menerobos barisan pertahanan yang kokoh, sekokoh pertahanan gebetan mereka yang tak kunjung membalas sms dari mereka. Kasihan. Agun bermain di tengah selalu berusaha mengoper bola kepada Dicky. Namun usahanya selalu kandas.

“Anjrot susah juga nih!” keluh Agun dalam hatinya.

Tak patah arang. Usaha kelas XI MIA 1 membuahkan hasil. Berkat operan dari temannya, Agun berputar-putar, menggocek-gocek bola yang dibawanya. Dia berusaha mengelabui kakak-kakak kelasnya itu dan mencari ruang tembak yang nge-pas. Keringat terus mengucur dari jidatnya yang putih, gak kayak si David, jidatnya item. Agun tiba-tiba melepas tembakan. Kiper dari XII MIA 3 tidak menyangka akan mendapat bola sekencang itu dari Agun. Ia berusaha menangkap bola, namun tangannya tidak sampai. Bola pun sukses bersarang nyaman di gawang dan masuk. Kedudukan imbang 1-1.

Game ON!”

“Ayo XI MIA 1!!!”

Dan setelah sukses menyeimbangkan kedudukan, XI MIA 1 malah keasyikan menyerang. Si Supri yang tugasnya menjaga pertahanan malah maju ke depan dengan ekspektasi bisa masukin bola. Jelas, kelas XII MIA 3 memanfaatkan celah-celah kosong yang kelupaan dijaga Supri yang malah ikut-ikutan maju. Tim XI MIA 1 krisis pertahanan. Operan jarak jauh dari kiper, dioper lagi, dan bola berada di kaki kakak kelas yang ganteng. Giliran si David yang ngejaga gawang yang harus mengamankan gawangnya.


Lagi-lagi ia mencoba maju ke depan, namun wajahnya nampak ragu-ragu. Dengan gampang, bola dicungkil ke atas. Si David yang malah berlutut terus berusaha me-sliding-tackle bola agar ketangkep, tak mengira bola bakal melambung tinggi di atas badannya. Refleks ia mengayunkan kedua tangannya ke atas, namun bola masih terlalu tinggi walaupun hanya berjarak 1 cm di atas tangannya. Bola yang melambung masuk lagi ke gawang si David.

“Aduh! Kalo aja pake sarung tangan. Pasti kena tuh!” teriak Elboy menggerutu. Ia turut meluapkan kekesalannya karena si David gak pake sarung tangannya.

1-2 untuk keunggulan XII MIA 3.

Ken keluar digantikan Shidiq. Shidiq yang selalu berada di zona pertahanan membuat si David sedikit tenang. Namun, karena dia itu asalnya anak basket, skill pertahanan futsalnya berasa kurang, beberapa kali pemain dari XII MIA 3 berhasil mengecoh dan melewatinya. Si Supri juga masih belum nyadar akan kesalahannya yang selalu meninggalkan pos pertahanan dan striker macam Dicky pun gak berhasil ngebobol gawang lawan. Agun juga masih mengira-ngira harus main kayak gimana. Lawan yang sudah sangat enjoy bermain dengan tidak meraba-raba lagi. Sudah terlatih. 2 gol selanjutnya pun menyusul. Memasuki gawang si David. Padahal ia sudah berlatih untuk menjadi penjaga gawang yang tidak bakal kebobolan sore hari di H-1 menjelang pertandingan. Ia berlatih bersama Engkongnya di teras rumah Engkongnya. Walaupun dengan tembok dan hanya memantul-mantulkan bola basket kecil miliknya lalu menangkapnya dengan lagak seperti Iker Casillas. Lalu bangkit lagi, lempar bola lagi dan tangkap lagi seperti Simon Mignolet. Ia semangat banget menatap pertandingan ini. Namun, takdir berkehendak lain. Dia harus kebobolan 4 gol di babak pertama ini.

Skor 1-4 untuk keunggulan XII MIA 3 di babak pertama.

“Sori, sori, tadi gue di depan terus! Kalian-kalian sih susah amat ngegolin juga! Gue kepancing deh buat ikutan nyerang!” si Supri yang ngomong sambil ngos-ngos-an merasa harus memberitahu kesalahannya.

“Oke, nanti elo harus diem jadi bek jangan kemana-mana.” tegas Agun.

“Si Bertus maen dong!” teriak si David. “Jadi bek, please! Biar pertahanan kita makin mantap.”

“He’eh. Pokoknya tetep di pos masing-masing. Jangan ada yang mau ngelunjak. Santai aja.” Si Dicky dengan keren memberi arahan.

“Sori juga saya tadi kebobolan 4.” Sambil sok-sok-an minta maaf, si David menyiram kepalanya dengan air supaya basah. Seperti di pertandingan piala dunia, kalo udah stres, biar sejuk dan kepala jadi dingin, siram kepala sama air. Mantap. Lalu meneguk dengan ganas air yang masih ada di gelas Aqua yang dipegangnya. Tak lupa kini ia memakai sarung tangan yang ia pinjam dari Rimo.

Si Bertus menjawab dengan kesal, “Bego, kebobolan banyak banget!”

“Ayo, ayo, kalian bisa kok!” Elboy dan teman-teman XI MIA 1 yang berada disitu menyemangati tim futsalnya agar bisa membalikkan keadaan dan memetik kemenangan.

“Bisa kalah?!” ejek Supri.

Interval kedua akan dimulai. Semua bersiap.

    ***

Di babak kedua ini akhirnya si Bertus main. Pas ditanya sama orang lain kenapa lo gak main tadi babak pertama, “Gue gak tau ternyata bakalan dibantai kek gitu….” Sambil nyengir. “……tau gitu gue main dari babak pertama. Pemain andalan mainnya belakangan..” Lanjutnya santai.

Emang laga Bertus ini udah kayak pemain yang kalau di istilah sepakbola disebut super-sub. Ternyata laganya itu bener-bener terbukti. Dengan adanya Bertus ternyata (sedikit) memberi pengaruh pada tim XI MIA 1, ritme permainan yang tidak jelas di babak pertama menjadi (sedikit) jelas di babak kedua. Tim XI MIA 1 terlihat lebih santai dalam bermain, tidak terburu-buru menyerang. Supri juga sudah sedikit kalem, gak sering ninggalin posnya sebagai bek. Dan dengan masuknya Bertus, beknya juga nambah. Beberapa peluang diciptakan dari dua pemain penyerang, si Agun dan Dicky.. namun kiper kelas XII MIA 3 juga gak sebegitu begonya mudah dibobol. Penyelamatannya lumayan apik. Bikin frustasi, tapi lama-kelamaan dia ngompol bobol juga. Karena kebingungan mau nebak bola kemana, hasil dari tendangan Agun yang mau memberi umpan kepada pemain depan, bek dari kelimaan kelas XII MIA 3 malah menahannya. Walhasil bola berbelok arah dan kipernya kelimpungan. Mati langkah. Bola pun masuk.

“GOOOLLLLL!!!!!” skor sementara 2-4.

“Ayo!! Bisa bro!!” teriak semua kelas XI MIA 1 yang ada di kursi penonton. Bahkan anggota XI MIA 1 yang tidak ada disitu juga memberi semangat.

“Semangat!!” Geng Gambreng ikut menyemangati nun-jauh di sana.

Fotonya waktu GPAK Voli... Gak punya yang waktu futsal..

Setelah gol ini tensi pertandingan memanas lagi, namun kembali turun lagi. Setelah kedua kelimaan ini terlihat lelah dan saling menikmati ritme permainan mereka. Disaat yang lain sudah sedikit dingin kepalanya, gak bagi Supri. Dia masih terlalu semangat. Emosinya masih tinggi banget. Ketika pemain kelas XII diberi bola oleh kawannya dan berhasil di kontrol di sisi kanan lapangan. Melihat keadaan yang membahayakan bagi gawang si David, si Supri langsung saja mem-body kakak kelasnya. Entah diving atau kakak kelasnya yang so dramatis, entah juga si Supri yang terlalu keras membody-nya, entah juga dia pengin cari perhatian gebetannya, entahlah… pas di-body oleh Supri dia seakan terbang dan mental jauh dari lapangan pertandingan. Lalu ngejogrok nabrak tong sampah.

“Apa-apaan lo hah?!” kata salah satu pemain XII MIA 3 ngomel-ngomel ke si Supri.

“Gue cuma body dia kok!” Supri jengkel dia yang dimarahin. Dia emang suka marah-marah. Apalagi di kelas. Tapi marahnya itu gokil, dia punya logat cadel. Yang lahirnya di Lampung emang pada cadel ya?! Bener gak sih, dia orang Lampung? Lupa, heh. Bener gak, pri?

“Enak aja cuma body, Kuning sit dia dorong dia juga!!!” marah banget wajahnya terlihat. Meminta kartu kuning ke wasit. Tapi ya mau dikatakan apa lagi, kita tak akan pernah satu. Engkau disana aku disini, meski hatiku memilihmu…….

Semua ngerubungin si Supri yang dinilai mainnya kasar.

“Oy, biasa aja, oy!” Supri emang orangnya berani mati, prinsipnya masih berlaku walaupun terhadap Kakak Kelas. Si Supri yang udah ngelak masih aja diomelin, dia kerubungin semua pemain kelas XII MIA 3. Bahkan yang cadangannya juga ikut-ikutan ngerubungin. Ngomelin si Supri.

Sementara itu, kakak kelas yang tadi merintih kesakitan. Wajahnya iba, kakinya lecet, dia gak bisa bangun. Wajar aja ya, nubruk tong sampah sambil terbang dengan kecepatan tinggi. Harry Potter aja yang bisa terbang pake sapu terbang gak pernah seumur hidupnya nabrak tong sampah waktu pertandingan Quidditch. eh ini main futsal di sekolahan aja malah nabrak tong sampah. Tapi orang-orang kemana, malah ngerubungin Supri lagi. Geram gak ada yang nolongin, dia menjerit. “Woy tolongin gue!”

“Oh iya si Daniel!!”

“Eh itu si Daniel, tolongin!”

“PMR mana PMR?!!”

“Panggil 911!!!”

Akhirnya si Daniel yang terlupakan ditolongin. Dikerubungin sama PMR yang anggotanya laki-laki cucok. Daniel yang terlupakan berhasil ditolongin dengan semestinya. Tak lupa diberi nafas buatan. Pertandingan berlanjut.

Usaha-usaha kelas XI MIA 1 untuk menyamakan kedudukan masih saja menemui jalan buntu. Gak gol lagi setelah kejadian gokil tadi. Akhirnya skor masih 2-4 untuk keunggulan XII MIA 3.

Si David yang sejak tadi ngejagain gawang gak kebobolan sama sekali di babak kedua. Pake sarung tangan emang membuat efek yang signifikan. Makin cakep aja dia. Kulitnya yang mendung makin berbinar-binar sore itu. Keringatnya bercucuran. Keringatnya seperti hujan. Lalu muncul pelangi. Ken, Shidiq, Supri, Bertus, Agun, dan Dicky juga masih semangat walaupun harus kalah. Mereka meninggalkan lapangan. Adzan maghrib pun berkumandang menutup pertandingan.

Pemain futsal baik dari putri maupun putra sudah menjadi pahlawan untuk kelasnya hari itu. Namun, mereka harus segera melupakan kekalahan itu. Karena besoknya, mereka harus bertanding kembali melawan kejamnya kehidupan Ulangan Kimia.

Kekalahan bukanlah kemenangan yang tertunda. Melainkan kemenangan. Jika  hati dengan mudah melupakan kekalahan tersebut. Dan semangat kembali untuk melawan lawan-lawan selanjutnya..

“Shid, contekan tiket kimia gue mana?” pinta David pada Shidiq.

“Gak tau… tadi dipinjem Razor. Di kelas mungkin.”

“Ah, minjem gak dijaga kamu mah..” ia ngomel sambil berlari menuju kelas. Dia harap-harap cemas karena besok tiketnya harus dikumpulkan. Yang kayak gini emang kagak boleh ditiru ya. Ngerjain tiket ulangan harusnya jauh-jauh hari. Eh, ini malah H-1 baru ngerjain. Nyontek lagi.

Tapi tiketnya kagak ada di kelas.

“Aduh, mati saya.” Batin David dalam hati cemas.. dia memang selalu kalah.

Minggu, 09 November 2014

Perawan XI MIA 1 Main Futsal?

Sebuah bola futsal yang manyun...
     Untuk blog.

     Sebelumnya, di Minggu malem ini saya bersyukur bisa memposting postingan yang sangat bersejarah dan memiliki momentum dan elastisitas yang sangat tinggi. Mohon maaf juga bila ada kata-kata yang kurang berkenan dan kesamaan nama, tempat, julukan, atau persepsi di dalam postingan ini, semuanya realita dan sudah diatur oleh Tuhan. Ekspektasi pembaca itu lucu, sedangkan ekspektasi penulis itu membuat pembaca terhibur, maka tertawalah sebelum tertawa itu berubah menjadi Manusia Harimau. Alhamdulillah juga postingan ini dapat diposting berkat aliran koneksi internet dari Modem baru saya. Makasih Ibu sudah mendukung dunia per-blogging-an saya dan dunia nge-game saya, walaupun bukan gamers (buat gaya-gayaan doang), karena Ibu juga membelikan saya twin USB Joystick.

Asik juara, euy!


    Saya juga ingin mengucapkan selamat yang sebesar-besarnya kepada Persib Bandung yang telah mengalahkan Persipura Jayapura. Ketika menonton final itu saya bingung harus dukung yang mana karena antara saya tinggal di Jawa Barat dan blog ini namanya hampir mirip sama julukan tim Persipura, Mutiara Hitam. Semoga menempuh hidup baru juga kepada yang sudah nazar kawin sama Monkey alias kelabang. Jodoh emang gak kemana, dan saya do'akan agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warrohmahh. Amiin.

Asik, kawin, euy!

    Besok juga saya Ulangan (Remidial) Fisika, do'akan saya semoga bisa mendapat nilai maksimal semaksimal-maksimalnya. Poko'e joget. Poko'e wish me luck guys!

    Kalo mau baca postingan ini, ada baiknya baca dulu postingan prequel-nya, ini bro: Gebyar Prestasi Antar Kelas

    Di selasa petang itu sekolah SMA Negeri 2 Kuningan masih terdengar suara-suara teriakan. Berisik banget! Sampe-sampe penasaran. Selidik punya selidik, ternyata masih ada cabang GPAK (Gebyar Prestasi Antar Kelas) non-akademik yang sedang dipertandingkan. Inilah, Pertandingan futsal putri antara XI MIA 1 melawan XII MIA 3. Pantas saja di lapangan SMA Negeri 2 Kuningan begitu ramai suara penonton dan para suporter kedua kubu. Kedudukan di babak kedua ini masih imbang nol sama. Sebentar lagi pertandingan berakhir.

    Sementara itu di bangku suporter tim XI MIA 1 sedang duduk para makhluk kelas XI MIA 1 yang sedang menonton pertandingan. Mereka nampak antusias karena ini adalah harapan satu-satunya dari sekian cabang olahraga yang sudah kandas terkalahkan oleh para lawan. Voli, basket, dan tenis meja sudah gugur semua.

    Dan disitu pula duduk salah satu anggota kelas XI MIA 1 yang paling ganteng nan imut bernama Fauzy Husni Mubarok, sebut saja Mawar David. Ia sedang sibuk mengutak-ngatik sarung tangan kiper yang ia pinjam dari temannya, Rimo. Si Fauzy ini ditunjuk menjadi penjaga gawang kelas XI MIA 1 yang akan bermain setelah pertandingan ini.

    Pantas saja ia begitu bersemangat untuk memakai sarung tangan yang baru ia pinjam itu. Ini adalah pertandingan olahraga pertamanya dalam mengikuti GPAK (Gebyar Prestasi Antar Kelas), setelah sebelumnya di kelas X ia tidak mendapat kesempatan bermain di cabang futsal karena skill-nya itu pas-pasan dibandingkan teman-teman yang lain. Kali ini ia dipercaya menjadi penjaga gawang tim futsal kelasnya, setelah dengan tidak sengaja bermain sebagai kiper di beberapa bulan lalu di ajang turnamen persahabatan kelas XI menggantikan Shidiq yang tidak bisa menangkap bola satupun. David dianggap meyakinkan menjadi kiper, walau sebenarnya hati kecilnya masih takut menghadapi bola. (Yaiyalah! Wong menghadapi guru fisika saja ketar-ketir)

     Yang duduk disitu semua pada kecewa. Karena sampe sekarang masih aja skor telor sama telor menghiasi papan skor. Sampe mereka udah pada jenggotan dan brewokan masih tetep saja skor gak berubah.

     Babak kedua pertandingan futsal putri ini pun berakhir dan terpaksa harus dilanjutkan ke babak adu penalti untuk menentukan siapa pemenangnya. Elboy yang menjadi penendang pertama sukses menuntaskan amanah (dari Tuhan) dengan baik, bola masuk dengan mulus dan penjaga gawang kelas XI yang dipanggil Teh Ipun itu nampak kesal karena tidak dapat menangkap tendangan Elboy. Nampaknya hari Jum’at nanti pramuka diliburkan, karena Teh Ipun sebagai bantara akan pergi ke barat untuk berlatih kiper bersama kera sakti sekalian mencari kitab suci.

     Giliran tim putri kelas XII yang menendang. Bola sukses masuk, skor menjadi 1-1. Via sebagai (bantara junior) kiper tim kelas XI MIA 1 hanya bisa diam melihat bola masuk ke gawangnya. Tubuhnya tidak bisa bergerak bagai patung pancoran. Kontan, suporter XI MIA 1 yang duduk di bangku bersama David kecewa dan berteriak menyemangati agar timnya tidak kalah. Oh iya, biar gak pada protes yang duduk di situ ada juga Irawan dan Rika. Dan para pemain futsal putra yang nanti akan bermain.

     Penendang kedua dari tim kelas XI, Ufla, berhasil memasukkan bola ke gawang yang dijaga Teh Ipun. Dan keberuntungan menghinggapi kelas XI MIA 1 ketika penendang kedua dari tim kelas XII MIA 3 gagal menceploskan bola. Bola melebar ke sisi kanan gawang. Via cuma bisa bersyukur dan cungar-cengir karena lagi-lagi tubuhnya terpaku tidak bisa bergerak melihat bola yang bundar. Matanya seakan terhipnotis oleh laju bola yang ngeloyor gitu aja. Skor 2-1 untuk keunggulan XI MIA 1.

     Dan sif ketiga pun dimulai. Sif terakhir penalti. Awalnya Gina yang akan menendang, sudah nampak meyakinkan. Namun yang terjadi malah Rainy yang nyerobot ingin menendang duluan. Gina mengalah dan pasrah akan keadaan. (#NowPlaying Seventeen - Selalu Mengalah)

     Rainy mengambil kuda-kuda yang aneh sebelum menendang. Wajahnya berseri-seri menunjukkan kalau dia itu percaya diri, cengar-cengir memberi salam kepada penonton. Gerak tubuhnya cucok sekali, dia menendang…. Bola hinggap tepat di pelukan penjaga gawang kelas XII, Teh Ipun. Ia mengangkat tangannya. Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. “The match is not over yet!” skor imbang 2-2.

     “Aduh, galau nih!” seru David kepada Bertus yang sejak tadi duduk mesra di sampingnya.

     Bertus cemberut, meratapi nasib kelasnya. Ia merasakan hal yang sama dengan David. Kelas XI MIA 1 harap-harap cemas melihat tim futsal putrinya sedang diujung tanduk. Semoga menang, ya?!

     Babak adu penalti dihentikan sebentar, bakal dilanjutkan sif ke-empat. Namun dengan aturan kalo yang nendang masuk berarti itu yang menang, kalau yang nendang enggak masuk berarti itu yang kalah. Kelas XI MIA 1 yang menang suit, memilih untuk menjadi yang menendang. Kalo masuk menang, enggak masuk kalah. Harapan berada di pundak Elboy, soalnya dia yang mengambil alih eksekutor penalti penentuan ini.

     Bulu kuduk merinding. Suporter sontak terdiam. Elboy mengambil ancang-ancang. Detak jantungnya bertambah cepat.

     DUARR!! Elboy menendang bola.

     Apa yang terjadi?!

     “AHAAYYY!!”

     Bola ditepis oleh Teh Ipun. OMG!!! Dan kelas XII MIA 3-lah yang memenangkan pertandingan. Elboy tertunduk lesu. Tim futsal putri XI MIA 1 harus mengakui kehebatan kelas XII. Kali ini tim futsal putra kelas XI MIA 1 yang akan bertandingan melawan kelas yang sama harus memenangkan pertandingan. Mereka harus membalaskan pahit getirnya kekalahan yang dialami oleh tim futsal putri. Apakah akan berhasil?!

      Mustahil, deh, kayaknya.

***

Senin, 03 November 2014

Review: Wall-E (2008) Film Robot Romantis

Untuk blog.

    Review Film Wall-E (2008)

Tentang Film

    Wall E adalah film bergenre animasi, petualangan, keluarga, romantis, dan fiksi ilmiah yang menceritakan tentang kehidupan manusia di masa depan.

    Disutradarai oleh Andrew Stanton, film hasil kerja sama studio produksi Pixar dengan Walt Disney sebagai distributor berhasil meraih penghargaan Academy Awards 2009 kategori Best Animated Feature Film of the Year dan Saturn Award kategori film Animasi Terbaik.

Pengisi Suara

Ben Burtt sebagai Wall-E dan M/O
Elissa Knight sebagai EVE
Jeff Garlin sebagai Captain McCrea (Kapten Kapal Axiom)
MacIn Talk sebagai AUTO

Sinopsis versi si Mamba Hitam

    Bukan tak mungkin di masa depan Bumi akan sangat kotor dan ditinggalkan manusia. Dipenuhi sampah, bau tidak sedap, dan debu bertebaran. Hanya tinggal sebuah robot usang pembersih sampah ditemani seekor kecoa. Hari-hari Wall-E (Waste Allocation Load Lifter-Earth-Class) nampak biasa saja karena hanya dihabiskan dengan membersihkan sampah. Namun kerinduan tentang bumi yang dulu (bersih dari sampah) menghiasi film ini.

    Hingga datang robot asing ke bumi untuk mencari tumbuhan sebagai tanda-tanda kehidupan bernama EVE (Extraterretrial Vegetation Evaluator). Wall-E merasa ada yang berbeda dari kehidupannya, ia mulai merasakan getaran-getaran asmara. Namun, ketika EVE menemukan tumbuhan ia harus kembali menuju Axiom, tempat manusia tinggal jauh dari bumi di luar angkasa sana. Wall-E mengejar EVE menuju Axiom dan dia melakukan hal-hal yang sangat diluar ekspektasi kita. Berhasilkah Wall-E menemukan EVE?

Review, yuk?!

    Nah, film animasi dari Walt Disney dan Pixar Animation Studios memang selalu menjadi tontonan menarik. Film ini lucu ada unsur komedinya, namun tetap mengharukan. Mengambil latar bumi yang sudah kotor dipenuhi sampah, pokoknya kotor banget dan mengenaskan. Di Bumi juga sepi, cuma ada si Wall-E yang jomblo dan ditemani oleh seekor kecoa saja. Hadeuh.

    Manusia kemana? Pada kabur, bro, ke kapal yang berfungsi sebagai planet buatan dan jadi tempat tinggal manusia. Dan dilayani oleh para robot. Ngeri juga ngelihat manusia di masa depan dalam film ini.

    Di film ini dialognya jarang, seperlunya doang. Meski begitu robot-robot ini masih bisa dimengerti bagaimana emosi dan karakter mereka. Karena gerakan-gerakan mereka, bahasa tubuhnya, sound-effect yang pas, membuat film ini mudah dipahami dan gak harus mikir keras buat ngerti ceritanya. Gak bakal misunderstanding walaupun jarang ngomong robotnya. Malahan kamu bakalan ngakak juga ngelihat gerakan-gerakan unik robot-robotnya.

    Detail dan wujud karakternya pun bagus, menarik, dan lucu. Apalagi wujud Wall-E dan EVE yang sangat beda jauh 180 derajat. Wall-E yang kucel dengan EVE yang futuristik bisa jatuh cinta. Anjir, menginsipirasi kaum berwajah minus seperti saya untuk mencari pujaan hati berkelas tinggi.

    Tapi saya kurang suka ketika tokoh manusia yang sangat sedikit mengambil peran di film ini. Tidak berdaya dan tidak tahu apa-apa. Pengetahuannya kurang banget tentang Bumi. Namanya juga film yang tokoh utamanya robot, maklum deh. Mungkin Bang Andrew Stanton-nya pengin nuansa robot yang kental (kayak susu bendera).

    Kalau mau nonton film ini ajak keluarga kamu. Yang punya pacar, bareng pacar. Yang punya anak, bareng anak-anaknya dong! Yang jomblo, sama kopi aja ya. Pesan moralnya bagus banget lho, biar anak-anak mengetahui arti penting dari menjaga kelestarian bumi. Supaya mereka termotivasi menjaga bumi dan agar tidak dikendalikan robot…

    Nilai: 8 dari 10

    ***

    Kritik dan saran diperlukan kami mengenai review film. Tuliskan di kotak komentar ya!

Sabtu, 01 November 2014

Gebyar Prestasi Antar Kelas!

Untuk blog.

    Sudah lama gak cerita lagi saya, keasyikan menjalani hidup jadi lupa kalau blog si Mamba Hitam itu sudah makin menggelora di hati para pemirsanya. Asik!

    Bulan Oktober adalah bulan perlombaan. Sejak kepala sekolah secara resmi membuka acara dengan disambut tepuk tanga meriah waktu upacara hari Senin di awal Oktober, di SMA Negeri 2 Kuningan diadakan banyak sekali perlombaan. Baik akademik: pidato, debat, buat logo kelas, tata upacara bendera, dan lain-lain, dan non-akademik: basket, voli, futsal, tenis meja, dan lain-lain lagi. Semua perlombaan itu melebur menjadi sebuah nama yang aneh. GPAK. Gebyar Prestasi Antar Kelas. Keren juga yak nama acaranya?

Sumber Gambar. Diambil dari akun twitter @osissmandakng

    Kelas masing-masing di sekolah menyusun strategi untuk memenangkan sebanyak-banyaknya lomba yang dipertandingkan. Tiap-tiap kelas membagi perwakilannya untuk turun di perlombaan yang menurut mereka layak untuk berlomba di medan lomba. Tiap perwakilan yang ditunjuk adalah orang yang dikira bisa untuk berlomba dan sudah menguasai medan lomba yang dipertandingkan. Ya, saya ulang, yang ditunjuk itu harusnya bisa dan layak.

    XI MIA 1 menunjuk siapa saja yang ikut lomba. Azas “semua anggota kelas harus kebagi lomba” sangat dijunjung tinggi. Prinsip ini menjadikan Irawan sebagai KM (Ketua Maho) yang dipercaya sebagai pencari bakat main tunjuk-tunjuk aja biar ikut lomba semua. Dan saya yang ganteng dan imut ini pertamanya kebagian ikut futsal. Ini mah udah sangat biasa bagi saya. Karena ilmu yang didapat di SSB bisa digunakan di cabang futsal ini. Dan berhubung untuk pidato bahasa Indonesia masih kosong, saya ditunjuk untuk maju.

    “Enggak, ah!” Saya melambai-lambaikan tangan tanda tidak mau ikut lomba itu, pidato, ngaca depan cermin saja takut sama wajah sendiri.
    “Sementara, zy.” Irawan mencoba membujuk saya.
    “Albert aja!”
    “Lho kok saya? Kamu yang ditunjuk!” Albert langsung nyolot. Wajahnya mendengus kesal.
    “Adit aja, tuh! Dia belum kebagian lomba! Dit, plis, dit, pidato dit. Orang Padang itu baik, lho.”
    “Ih, gak mau enak aja! Gak bisa! Bawa-bawa Padang segala lagi!” si Adit yang nama lengkapnya Adit Istiadit ini benar-benar tidak mau ikut lomba. “Dasar Padang Bengkok!” ejek saya dalam hati, susah diajak kompromi temen saya yang satu ini.

    Dan Irawan yang pengen kerjaannya cepet selesai buat nyari perwakilan lomba membujuk saya lagi, emang, pengennya gampang doang. “Sementara, zy. Kalau nanti gak siap bisa diganti, kok.”

    Saya pun luluh lunglai berkata, “Iya deh, iya, sementara ya? Awas, lho. Bisa diganti ya? Awas lho.”

    Irawan tersenyum puas.

    ***

    Dan yang sementara kadang-kadang berubah menjadi permanen.

    Minggu, tidur siang saya yang menghasilkan mimpi kencan sama Cate Blanchett dan hampir saja mau bercumbu harus kandas karena terasa ada yang bergetar di bawah bantal, gak taunya hape, ada SMS dari Elboy. Bukan, Elboy bukan nama pahlawan super yang mau menangkap saya karena kemarin saya telah menewaskan seekor semut yang berjalan di depan saya ketika saya lagi asyiknya boker, bukan. Dia adalah teman saya, seorang cewek, aslinya berinisial EDA (kemungkinanyainisial lengkapnya bisa: al-qaEDA, buronan AS, terus nining maEDA, penyanyi pop sunda),Elboy hanya nama panggilan karena dia sedikit jantan sebab olahraganya jago, punya tumor jinak di atas bibirnya atau kalau orang jorok bilang, “TAHIK LALAT!”. Kemungkinan rumahnya banyak lalat, lagi tidur di-BAB-in. hehe. Dan dia adalah orang yang hobinya ngebully saya terus, dari mulai kulit saya, wajah saya yang ganteng, tingkah laku saya yang aneh, atau apapunlah dia komentarin dan menjadi bahan tertawaan orang. Dia selalu bilang, “EEEAAAA!!!” kalau guru lagi nerangin. Asli, walaupun kocak, ngeganggu konsentrasi sih. Habisnya, udah ngerti apa yang dijelaskan guru, terus ngedenger Elboy ngomong, “EAAAAAAA!!” dengan cempreng, materinya keluar lagi dari otak pada kabur semua.

    Udah ah, takut dimarahin Elboy kalo dia baca ini.

    Sampe mana tadi?

    Oh iya, SMS dari Elboy isinya gini:

    “Piiid* bikin pidato yah, hafalin, besok lombanya, Tema pidato: pahlawan, guru, sumpah pemuda. Cemumut.”

    *)David adalah nama panggilan untuk saya di kelas, walaupun terlalu keren abaikan saja, orang jelek juga pengin bahagia.

    SMS yang menyeramkan sekali dari Elboy itu saya baca berulang kali. Ngedip-ngedipin mata berulang kali. Geplak-geplak pipi pake tangan ternyata sakit. Apakah ini mimpi, guys? Tidak, itu kenyataan.

    “IRAAWAAAANNNNN KATANYA SEMENTARA!!!!!!!!”

    S.A.Y.A.H.A.R.U.S.G.I.M.A.N.A.?

    Mau gak mau saya bikin pidatonya dan besok adalah hari pembuktian seorang David*.

    *)David adalah nama panggilan untuk saya di kelas, walaupun terlalu keren abaikan saja, orang jelek juga pengin bahagia keleus.

    ***

    Besoknya, dengan bantuan Elboy saya menghafal pidato teks pidato yang saya buat. Nanti saya posting teksnya, oke. Saya juga dikasih petuah-petuah berpidato yang baik sama Pazin, cowok jangkung putih namun jerawatan, teman satu geng saya waktu MTs juga, dikasih tahu ketika sehabis sholat dzuhur di masjid sekolah.

    “Pidato yang baik itu yang gak bikin penontonnya bosen.” Sambil menepuk pundak saya.
    Sambil make sepatu saya mendengarkan dengan baik.
    “Stand-up-comedy juga pidato kan, tapi ngelucu?”
    Saya mengangguk pelan, “Bener juga.”
    “Nah, tambahin aja jokes-jokes di dalam pidato kamu, yang terpenting kamu harus meyakinkan para juri kalau kamu itu siap. Dari bahasa tubuh kamu juga menentukan dan itu jadi nilai plus.” Pazin meyakinkan saya dengan tatapan mata manusia harimau.
    “Sip!” kepercayaan diri saya melesat ke level tertinggi.
    “Gimana, tadi gue kayak Mario Tegang ya?”
    Mendengar omongannya Pazin barusan, kepercayaan diri saya pun runtuh, anjlok ke level terendah.

    ***

    Bel pulang berbunyi, waktu lomba pidato tinggal setengah jam lagi. Jam 3 sore.

    Kata-kata semangat dan dukungan mengalir deras dari seluruh anggota kelas XI MIA 1, terima kasih kawan-kawan!

    Sambil menunggu lomba dimulai, saya shalat Ashar dulu di masjid sekolah. Dan bertemu Rick, teman saya waktu MTs juga. Sekarang dia kelas XI MIA 5 dan saya lihat dia sedang menghafal sebuah teks yang tulisannya amburadul kayak cerita wayang yang kacau di OVJ.

    “Lomba pidato, rick?” tanya saya penasaran.
    “Iya, nih.” Jawab rick, matanya hanya tertuju pada teks pidato yang sedang ia pegang. Gak nyangka juga dia ditunjuk untuk lomba pidato. “Yang bener?” saya tanya sekali lagi.

    “Iya, tapi mendadak. Baru ditunjuk pas tadi pulang sekolah.” Waduh, parah bener yang nunjuknya. Kalau Irawan yang nunjuk mendadak ke saya kayak Rick begini, saya pasti gak mau dan Irawan sudah dipastikan mati mengenaskan karena ‘jurus gelitik-gelitik sampai mati’-nya saya yang legendaris, dimiliki oleh setiap warga desa Ciomas. Huehehehe.

    HUH, LOMBA DIMULAI!!!!

    Satu persatu peserta lomba berpidato dengan gaya khasnya masing-masing. Ada yang pidato dengan gaya khotbah, ada yang pidato dengan gerakan tubuh yang overacting sampe koprol-koprol segala, ada juga yang make gaya khotbah sambil koprol di panggung. Pokoknya semuanya tampil maksimal deh, termasuk Rick, walaupun awalnya lucu karena dia ngeblank di kalimat pertama, tapi dia terus nyerocos kayak ibu-ibu yang baru dapet bahan gosip teranyar.

    Dan tibalah saya, urutan ke 17 (sebenarnya ke 29 karena banyak peserta yang tidak datang jadi urutannya naik). Banyak juga yang nonton disana, ada Rainy, Pazin, Dakhil, Inca, dan masih ada deh mungkin kelas XI MIA 1 yang nonton, saya kurang inget. Makasih ya sudah mau menonton!

    Saya naik ke atas panggung, dan mengambil microphone dari pembawa acara. OSIS yang ngebawain acaranya cantik nih kelas X, mau saya tembak tadinya, takut digampar sama juri. Huehehehe.

    Fokus, microphone sudah digenggam. Badan saya tegakkan, dada pun dibusungkan. Fokus. Lomba pidato pertama yang saya lakukan seumur hidup saya harus berjalan sesuai ekspektasi. Nyatanya…

    Sepatah kata saya ucapkan, “Assalamu’alaikum WR. WB.” Anjrot, baru satu kata. Masih banyak kata yang harus saya ucapkan hari itu. Namun ngeblank melanda. Oh iya, ucapan syukur. Sehabis satu paragraf ucapan syukur, saya ngeblank lagi. Oke, ucapan terima kasih dan rasa hormat. Saya melongo lagi kayak kambing mau kawin. Oh iya, cerita masa kecil yang sudah butuh guru. Lalu, “ee..” lagi. Ngomong lagi, dikit. Ngeblank lagi. Ngomong lagi. Melongo lagi. Gitu terus nyampe kiamat. Petuah-petuah pidato yang baik dan benar dari Pazin seketika hilang semua. Yang saya pikirin adalah gimana caranya ngehipnotis para juri dan penonton agar tertidur lalu saya kabur dari situ.

    Baru saja saya menyampaikan setengah dari pidato saya. Tiba-tiba…..

    “Maaf, waktu pidato anda telah habis. Silahkan mengakhiri pidatonya dan meninggalkan panggung…” seru pembawa acara lomba pidato yang cantik itu. Aduh, kenapa sekarang? Lagi asyik-asyik ngomong. Kan belum selesai?

    7 menit gak kerasa di atas panggung. Saya pun tersipu malu disapa oleh pembawa acara yang cantik itu. Mau saya tembak, takut digampar juri. Huehehehehe. Fokus woy! Lo kehabisan waktu! Lo udah gagal! Pidato lo kagak selesai!

    Oh iya, lupa.

    *drama*

Saya pun tidak menyangka waktu akan berputar secepat itu ketika saya berpidato di depan para juri dan para peserta lomba pidato dan teman-teman yang menonton. Saya merasa tidak berdaya waktu itu, wajah saya memerah, luntur sudah wajah saya yang hitam itu saking malunya, saya pun beranjak dari panggung itu, namun, sebelumnya saya megucapkan salam perpisahan terlebih dahulu, “Sekian dari saya, mohon maaf atas segala kesalahan, Wassalamu’alaikum Wr. Wb.” Dan berlari menuju kerumunan teman-teman saya yang menonton. Memeluk mereka. Menguraikan air mata yang begitu derasnya. Saya tak bisa menahan beban itu lebih lama lagi. Saya ingin mengakhiri itu semua. Saya ingin mengakhiri pidatonya. Namun, saya kehabisan waktu. Maafkan saya, teman-teman. Saya kehabisan waktu!

    Sekali lagi, maafkanlah.