NOSTALGIA DI WARNET..

06.58.00

 Untuk blog.


    Ketika hari Kamis, saya mengajak sohib aneh saya di kelas Albert untuk bernostalgia. Karena ini sebuah nostalgia, tadinya, mau saya ajak dia ketemu mantannya, tapi dia gak punya mantan. Jadi saya ajak Albert untuk pergi ke warnet depan sekolah untuk mendownload film.

    Ceritanya, hari Kamis itu masih pagi menjelang siang, sekitar jam setengah 11. Di jam pelajaran bahasa Indonesia karena gurunya gak masuk jadi saya berniat untuk ke warnet aja karena di kelas sangat membosankan. Saya memastikan dulu gurunya tidak masuk, saya nongkrong dulu di depan ruangan guru selama setengah jam dari jam 10 bersama Shidqi dan Albert. Guru bahasa Indonesianya ada di ruang guru itu tapi dia terkenal dengan kemalasannya untuk masuk dan mengajar, sudah banyak sekali jam pelajaran yang kosong akibat dia tidak masuk. Setelah menunggu setengah jam seperti yang saya katakan tadi, jam setengah 11, saya mendeklarasikan, “Guru Bahasa Indonesia gak bakalan masuk hari ini.” dengan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya di depan ruangan guru tersebut pastinya.

    Saya meminta tolong dulu ke Shidqi kalo ada apa-apa seperti guru bahasa Indonesia mendadak hamil terus ngidam pengin masuk kelas selama saya dan Albert di warnet tolong hubungi saya (Gak mungkin hamil juga kali, gurunya laki-laki). Saya juga memastikan untuk meminta tolong ke Agung juga, sebagai cadangan. Sebagaimana saya dan Albert tahu dan tak jarang orang tahu bahwa Shidqi dan Agung ini memiliki sebuah hubungan rahasia yaitu ribut melulu dan gak pernah akur. Jadi, kalo-kalo Shidqi memberi kabar bohong, Agunglah yang akan saya tanya.

    Saya menyebut ini sebuah nostalgia karena ini adalah momen dimana saya dan Albert kembali ke warnet depan sekolah setelah berbulan-bulan gak kesitu. Semenjak saya punya modem, saya jadi gak pernah lagi main-main ke warnet. Download filmnya jadi di rumah aja. Dan sekarang saya dan Albert kembali akan mendownload film di warnet itu lagi.

    Semangat nostalgia menyelimuti kami berdua, ketika sampai kami banyak sekali berdecak kagum.

    “Wah penjaga warnetnya masih ganteng!!”

    “Ada komputernya!”

    “Komputernya dilengkapi internet lagi, keren!!!”

    Sistem pembayaran di warnet itu juga masih sama seperti berbulan-bulan yang lalu, caranya bayar dulu baru pakai. Misalkan, saya bayar dulu seribu lalu  dapat waktu 20 menit pakai komputer di warnet itu.

    Setelah berunding dulu dan mempertimbangkan berbagai resiko, saya memberikan uang dua ribu rupiah ke penjaga warnetnya, dapat 40 menit. Karena kalau misalkan langsung bayar goceng, nanti waktunya dikasih lama. Misalnya, koneksinya lagi lemah atau komputernya tiba-tiba error, duitnya gak bisa diambil lagi. Rugi jadinya. Tapi kalo misalkan gak terjadi apa-apa dan download berhasil, maka bisa ditambah waktunya dengan ngasih lagi uang. Gitu.

    Komando berada di tangan saya untuk mengambil alih mouse komputer warnet dan mulai saya gerakkan kursornya menuju setup untuk menginstall IDM (Internet Download Manager), software yang sangat menunjang untuk mendownload file besar seperti film, karena dapat mempercepat kecepatan downloadnya. Setelah beberapa kali meng-klik ‘next’ dan diakhiri ‘finish’, IDM telah diinstall.

    Sebelum mendownload, kami berdua survey dulu film apakah yang akan didownload. Membaca review dan membuka website IMDB.com untuk melihat rating dari sebuah film. Jika suatu film ratingnya bagus (biasanya di atas 7) dan dari review sedikit banget kekurangan yang disebutkan, maka itulah film yang akan didownload. Dan langkah selanjutnya.. cari film yang telah disurvey di ganool.com.

    Salah satu film tentang ahli matematika yang mencoba memecahkan enigma adalah film pertama yang saya pilih untuk di-download pada nostalgia itu, tebak film apakah itu? Ya bener, Doraemon Stand By Me. Bukan!!

    The Imitation Game 850 MB baru 5% di-download tapi baru 2 menit dari saya meng-klik tombol start download tadi. Kecepatan downloadnya luar biasa banget menurut kami.

    “Wow!! Wow!! Wow!! WOW!! WOW!! WOW!!” sontak kami berdua berteriak kagum. Kayak yang habis juara liga Inggris, kami berdua larut dalam euforia itu. Di bilik warnet itu kami berdua merasa senang. Seketika beban setelah tadi ulangan fisika hilang.

    “Gile, udah ditinggalin sama kita, warnet makin cepet. Di Cirebon aja gak kayak gini.” Curhat saya. Saya membandingkan kecepatan download di warnet depan sekolah ini (Kuningan, Jawa Barat) dengan Cirebon. Soalnya, kota besar yang pernah saya datangi dan rasakan kecepatan download filmnya cuma Cirebon.

    “Di luar negeri sih segini masih lemot.” Sahut Albert menanggapi curhatan saya.

    “Yaiyalah! Mau bandingin kota kecil ini sama luar negeri ya jauh!!” saya langsung nyolot, kami berdua tertawa-tawa lagi. Semoga penjaga warnet gak curiga kami berisik seperti itu karena kami berdua adalah cowok tulen yang normal tidak homoseksual.

    “Eh, itu kotak dialog apaan?” tanya Albert kepada saya dengan perasaan takut.
    “Oh, itu nyuruh IDM buat di-patch dulu karena kita pake yang bajakan..”
    “Patch dulu atuh!! Takut kenapa-napa..” nada bicara Albert ngajak ribut nih, nampaknya dia tidak tenang.
    “Kalem, Bert, tenang, gak apa-apa kok. Nanti di-patch kalo download film ini udah selesai..”

    12 menit berlalu. Proses download film The Imitation Game tadi sudah 65%, sebentar lagi film ini selesai di download. Namun kejadian tak terduga terjadi, komputer warnetnya nge-restart sendiri. Pikiran saya dan Albert langsung blank. Saya kaget.

    “Aduh!! Kata gue juga di-patch dulu!!” teriak Albert memarahi saya.
    “Saya gak tahu bakal kayak gini!! Ini bukan gara-gara gak di-patch!!”
    “Terus gara-gara apa?!!”
    “Gara-gara kecepatan downloadnya terlalu tinggi mungkin.”
    “Gak mungkin!! Ini gara-gara gak di-patch IDM-nya.”

    Lalu saya mulai dari awal lagi. “Komputernya kayaknya gak mau kita senang di awal.”
    “Bener. Jangan senang dulu!” Albert memperingatkan.

    Dengan IDM yang di-patch dulu, film The Imitation Game saya download ulang dan udah sampai 65% lagi. Disitu kadang saya merasa paranoid, saya takut download-nya gagal lagi.

    “Bert, liatin penjaga warnetnya, saya takut gara-gara kecepatan download kita yang cepet banget, dia sengaja ngebuat komputer kita mati kayak tadi.”

    Albert berdiri sambil celingukan, “Iya, sip. Kayaknya penjaganya lagi sibuk, ada pelanggan yang lagi minta tolong buat print.”

    “Oke, saya juga lagi liatin komputernya takut ada yang aneh.” saya masih serius dengan tatapan tajam saya ke kotak dialog IDM-nya, entah kenapa, ini menjadi kesenangan tersendiri bagi saya dan Albert. Melihat sebuah proses download film dari awal sampai akhir, semakin senang jika kecepatan downloadnya cepat.

    “Bentar.. tapi gak mungkin deh dia tau kita lagi download film?? Soalnya tatapan matanya biasa aja..” tanya Albert kebingungan.

    Saya jawab sekenanya sambil menatap dia serius, “Bisa saja. Jangan remehkan orang yang terlihat biasa saja.”

    Udah 99%, ketakutan akan kegagalan memuncak. Telapak tangan saya bergetar, mata melotot, lidah bergoyang-goyang, dan…………………

    Yes! The Imitation Game sukses didownload.

    Lalu lanjut film kedua. Enemy at The Gates. Sukses didownload. Dan ketiga, Blue Jasmine. Film yang berhasil membuat Cate Blanchett menang Oscar tahun lalu.

    Sementara film Blue Jasmine belum selesai di-download, handphone saya bergetar, ada yang sms. Si Agung ternyata, ngasih tahu kalo Guru Bahasa Indonesia masuk dan ngasih ulangan harian. Saya setengah percaya gak percaya soalnya waktu sudah menunjukkan jam istirahat. Saya tanya kenapa baru sms sekarang, Agung jawab, “Lupa.”

    Shidqi juga nelpon, “Bro, ulangan bahasa Indonesia.” Saya gak percaya, soalnya pas dia nelpon rame banget di kelas. Masa ulangan berisik gitu.

    “Bohong?”

    “Dikasih tau ngeyel, cepetan ke kelas!” Shidqi ngasih perintah.
    “Kenapa baru ngasih tau?”
    “Lupa.”
    Telpon ditutup.

    Saya nanya lagi ke Agung ulangannya udah selesai apa belum, dia jawab, “Udah.”

    Mampus.

    “Gimana, Bert, kita ke kelas atau stay here??” tanya saya kebingungan dan masih kelimpungan. Mouse komputer warnet dipegang erat-erat dan diputar-putar, lalu dijilat, tapi gak dicelupin.

    Albert mengerutkan dahi tanda berpikir lalu menjawab, “Kayaknya mereka berdua sekongkol.”

    Sepertinya Albert sudah kesambet, jelas-jelas Shidqi sama Agung itu bagaikan minyak dan air gak pernah akur. Kalo di kelas, kerjaannya ribut melulu. Kayak debat politik. Bedanya sama debat politik beneran, mereka berdua selalu mendebatkan hal yang gak penting. Pokoknya, yang penting debat. “Ah, Gak mungkin! Ngaco kamu! Gimana nih? Ini Blue Jasmine udah 77%, masa kita tinggalin begitu aja??!!”

    “Ya, udah, kita ke kelas kalo film Blue Jasmine ini selesai.”

    Film Blue Jasmine selesai di download, kami bersiap meninggalkan warnet. Albert mengambil flashdisk dan mengantonginya. Selepas keluar dari warnet, ada temen sekelas saya dan Albert yang lain, dia Kenny, sedang nongkrong bareng dua temannya di dekat gerbang sekolah. Saya berbisik ke Albert, “Itu ada Kenny, pasang muka gak tau apa-apa. Kalo dia ngomong ulangan Bahasa Indonesia berarti Ulangan Bahasa Indonesia itu beneran, bukan kabar burung.” Kata saya menjelaskan dan Albert mengangguk.

    Saya dan Albert berjalan melewati Kenny dan dua temannya, lalu Kenny menyapa, “Hei, dari mana? Ulangan Bahasa Indonesia tau..”

    “Serius?” saya dan Albert bereaksi bersamaan.

    “Iya, tapi sedikit cuma 10 nomer sama 5 essay, dilanjutin minggu depan, kayaknya ini sih cuma latihan deh, eh, ulangan sih, tapi cuma sedikit.. latihan deh kayaknya.. ih.. bla.. bla.. bla..”

    Karena bingung, saya dan Albert meninggalkan Kenny begitu saja.

    Sampai di kelas si Agung sama Shidqi sedang bermain PES berdua, tumben romantis. Saya cie-cie-in aja. Kecurigaan Albert kayaknya semakin menjadi, Agung dan Shidqi menyimpan sebuah rahasia bahwa mereka mempunyai hubungan spesial.

    “Cepetan! Gue udah sediain lembar jawabannya. Tuh banyak punya temen, pilih salah satu, salin aja!” Teriak Shidqi perhatian dan menunjuk meja guru di kelas, disitu lembar jawaban dan soal ulangan terkumpul rapi belum dibawa ke pelukan guru Bahasa Indonesia.

    Saya dan Albert menyalin lembar jawaban punya Vicky. Terima kasih Vicky. Hari itu, saya dan Albert untung besar, bermodalkan lima ribu (dari saya tiga ribu dan Albert dua ribu, dia emang sedikit pelit dan gak mau rugi kalo berurusan dengan duit) dapat mendownload 3 film. Kalo pakai modem, 50 ribu palingan dapat 10 film, hitung keuntungan yang didapat berapa. Saya yakin, kejadian ini mungkin akan terulang kembali di hari yang lain, jangan kasih tahu siapa-siapa ya!!


(9-_-)9

Baca cerita yang lain yuk!

9 yang komentar.

  1. wah, gile juga. pergi dari pelajaran untuk menyelinap ke warnet.
    sekali balik ke sekolah, nyalin jawaban teman. harus dilaporkan nih..
    tapi, the imitation game itu bagus loh ya... :)

    BalasHapus
  2. Wahhh . . didaerah kota gue kecepatan warnetnya gak bisa sehebat itu . , Jadi iri . .
    E pembayarab diwarnet lo kok gitu yes?? Bayar dulu baru maen . . ?/ kayak gamezone aja . .
    Bukannya kebanyakan maen dulu, baru bayar . .??

    BalasHapus
  3. Jadi inget pengalaman gue di warnet dulu :D

    BalasHapus
  4. Aku dulu pernah juga ngopi jawaban temen di warnet.......... Dulu aku juga pernah buat laporan, terus pas selese diprint bilang "Mas, nanti filenya dihapus ya?"

    BalasHapus
  5. Berani-beraninya keluar kelas, terus maen warnet lgi! Emang di sekolah lu ga ada satpam ya, yang jaga klo ada yg keluar sekolah gitu. Mending ke kantin kek, atau kemana, tapi boleh jga lu. Salam buat si Albert, wkwk!

    BalasHapus
  6. Wah kalau bayar duluan biasanya buat main game online tuh.
    Ah jadi inget dulu kalau main ke warnet pasti install IDM dulu, sekarang sih kalau download film sukanya lewat torrent. Udah lama ga ke warnet lagi.

    Yg pasti warnet ini mengenalkan saya pada informasi tanpa batas dan pornografi. :x

    BalasHapus
  7. Itu warnet sakti bingit, gue pernah ke warnet download 1 film aja sampe 6 jam.. Pas gue pulang, kakak gue yang awalnya jomblo udah ngasih gue keponakan...

    BalasHapus
  8. Kalo itu warnetnya cepet buat download bisa betah2 banget. Paling gasuka kalo ke warnet yang udah lemot, rame sama bocah, eh penjaganya judes banget. Pernah tuh gue rasain huhuhu, mana pas lagi butuh2nya lagi.

    BalasHapus
  9. Hahah.. Bandel amat sik. Entar kalok kuliah, kamu bakalan puas kan bisa wifian di kampus. Ngga perlu ke warnet lagi :D

    BalasHapus

Terserah..

Total Tayangan Laman